Setiap trader pasti ingin tahu bagaimana cara mengidentifikasi kekuatan tren dalam trading. Ini memungkinkan kita untuk mengikuti tren, bukan melawannya, sehingga meningkatkan probabilitas mendapatkan hasil yang menguntungkan.
Namun, menilai kekuatan tren tidak sesederhana yang diharapkan sebagian orang.
Dengan kata lain, banyaknya indikator dan metode teknis yang membanjiri pasar keuangan selama bertahun-tahun justru membuat hal yang sebenarnya relatif sederhana menjadi terlalu rumit.
Saya akan menjelaskan beberapa strategi untuk menilai kekuatan tren dengan menggunakan alat Fibonacci dan pola kandil. Setelah membaca artikel ini, kamu akan bisa mengidentifikasi kuat atau lemahnya sebuah tren. Sekaligus, kamu juga akan bisa mendeteksi tanda-tanda pelemahan tren sebelum reversal besar terjadi.
Karena sebagian besar indikator teknis bersifat lagging, mereka tidak bisa memprediksi pasar secara akurat. Oleh karena itu, kamu perlu menggunakan alat price action untuk melakukan penilaian yang bersifat forward-looking terhadap pasar.
Apa Itu Kekuatan Tren dalam Trading?
Kekuatan tren adalah besarnya momentum harga pada grafik kandil, dan momentum berbanding lurus dengan kuat atau lemahnya tren.
Dalam trading, hanya ada dua kekuatan yang menggerakkan pasar forex: pembeli dan penjual.
Aturan praktis yang sederhana: jika kekuatan pembeli kuat, harga akan naik; jika kekuatan penjual lebih kuat dari pembeli, harga akan turun.
Jika momentumnya kuat, maka kekuatan tren juga kuat; jika momentum pembeli atau penjual lemah, maka kekuatan tren juga melemah.
Tentu saja, ini adalah hal yang sudah umum dan benar adanya.
Bagaimana Cara Menilai Kekuatan Tren?
Dalam price action trading, ada dua cara sederhana untuk menilai pelemahan tren atau reversal yang akan terjadi:
1. Menggunakan alat Fibonacci
2. Menganalisis pola kandil
3. Jarak retest
Ketiga metode ini semuanya bisa digunakan. Ketika kamu terus berlatih, suatu hari nanti bahkan tanpa bantuan alat apa pun, hanya dengan mengamati grafik, kamu akan bisa mengidentifikasi tanda-tanda kuat atau lemahnya tren.
Berikut ini saya akan menjelaskan ketiga metode tersebut satu per satu.
Metode #1: Menggunakan Alat Fibonacci untuk Menilai Pelemahan Tren
Fibonacci adalah alat yang menggunakan deret bilangan alami untuk menentukan level harga dengan probabilitas tinggi. Metode ini akan menggunakan empat level Fibonacci retracement: 38%, 50%, 61,8%, dan 78%.
Selain itu, kamu juga perlu memahami satu hal: grafik pasar terdiri dari dua jenis gelombang — gelombang impulsif dan gelombang korektif. Setelah gelombang impulsif, akan terbentuk gelombang korektif; setelah gelombang korektif, akan terbentuk gelombang impulsif baru.
Gelombang impulsif mewakili momentum kuat dari pembeli atau penjual; sedangkan gelombang korektif mencerminkan melemahnya kekuatan kedua belah pihak.
Oleh karena itu, gelombang korektif menentukan kuat atau lemahnya tren. Gelombang korektif selalu terbentuk setelah gelombang impulsif. Jika gelombang impulsif bersifat bullish, maka tren keseluruhan adalah tren bullish; sebaliknya, jika gelombang impulsif bersifat bearish, maka tren keseluruhan adalah tren bearish.
Ada tiga skenario umum untuk menilai kekuatan tren.
Skenario 1: Retracement Fibonacci 78% = Tren Lemah
Jika harga retrace ke level Fibonacci 78%, maka kekuatan tren lemah. Harga mungkin tidak mampu melanjutkan tren sebelumnya.
Skenario 2: Retracement Fibonacci 50% – 61,8% = Tren Sedang
Jika harga retrace ke level Fibonacci 50% atau 61,8%, ini menunjukkan bahwa tren memiliki kemampuan kelanjutan yang cukup kuat. Artinya, pembeli atau penjual masih memiliki kemampuan untuk mendorong harga terus bergerak sesuai tren semula.
Skenario 3: Retracement Fibonacci 38% = Tren Kuat
Jika harga hanya retrace ke level Fibonacci 38%, ini adalah sinyal jelas bahwa tren kuat, menunjukkan harga kemungkinan besar akan melanjutkan arah tren sebelumnya.
Kedalaman retracement mencerminkan kuat atau lemahnya "kekuatan lawan" di pasar. Misalnya, jika gelombang impulsif bergerak naik, berarti pembeli mendominasi; maka pada gelombang korektif, penjual akan mencoba menekan pembeli.
Jadi, semakin dalam retracement, semakin kuat kekuatan penjual; semakin lemah kekuatan tren bullish.
Level Fibonacci retracement bisa langsung mencerminkan tingkat kekuatan tren.
*Catatan: Ingatlah bahwa metode ini hanya berlaku untuk pasar yang memiliki tren yang jelas. Jika pasar tidak memiliki tren, melainkan berada dalam struktur range bound, maka metode ini tidak akan berfungsi.
Sekarang kita masuk ke metode kedua.
Metode #2: Menilai Kekuatan Tren dengan Menganalisis Kandil
Dalam metode ini, kita mengidentifikasi kekuatan tren dengan menganalisis body dan shadow kandil.
Satu kandil terdiri dari body dan shadow. Body mencerminkan momentum pembeli atau penjual; sedangkan shadow mencerminkan keaktifan pertarungan dan keseimbangan kekuatan antara pembeli dan penjual.
Tren Kuat
Jika dalam suatu rentang, sebagian besar kandil menunjukkan body besar dan shadow kecil, maka tren tersebut kuat.
Warna atau harga close kandil menentukan arah tren. Jika kandil bearish (merah) jelas lebih banyak daripada kandil bullish (hijau), maka kekuatan tren penjual lebih kuat daripada pembeli.
Tren Lemah
Jika dalam suatu rentang muncul banyak kandil dengan body kecil dan shadow besar, maka tren tersebut lemah. Tren lemah ini biasanya berkorelasi dengan fase gelombang korektif yang muncul pada grafik harga.
Dalam definisi di atas, istilah "rentang kandil" merujuk pada 10 hingga 20 kandil terakhir.
Metode #3: Jarak Retest — Metode Terbaik untuk Menilai Kekuatan Tren
Di semua pasar yang menggunakan analisis teknis untuk trading, terdapat kesalahpahaman umum yang mahal di kalangan trader. Ada yang berpendapat bahwa level support dan resistance akan semakin kuat setiap kali di-retest.
Dengan menyesal harus saya sampaikan, ini sama sekali tidak benar.
Level yang sama di-retest berkali-kali hanya akan membuat level tersebut semakin "menonjol", bukan semakin "kuat".
Dan "menonjol" dan "kuat" sama sekali bukan sinonim.
Coba pikirkan, jika sebuah level semakin kuat setiap kali di-retest, maka secara teori level tersebut tidak akan pernah bisa ditembus. Kalau tes ketiga saja tidak tembus, kenapa tes keenam justru bisa tembus? Bukankah saat itu levelnya sudah "lebih kuat"?
Logikanya sama sekali tidak masuk akal.
Lalu, jika kita setuju bahwa "retest berkali-kali tidak membuat level semakin kuat", apakah kita bisa secara alami menyimpulkan bahwa level tersebut justru semakin lemah?
Juga tidak sepenuhnya begitu. Meskipun pasar yang terus kembali ke area yang sama pada akhirnya memang mungkin akan breakout, hanya berdasarkan hal itu saja, kita tidak memiliki cukup data untuk memastikan probabilitas breakout tersebut.
Untuk menilai hal ini, kita perlu kembali ke swing high dan swing low. Lebih spesifiknya, hubungan antara swing high dan swing low dengan level kunci.
Pemikiran Akhir
Menilai kekuatan tren tidak perlu menjadi operasi yang rumit. Tiga teknik sederhana yang dibahas di atas sudah cukup untuk membantumu menentukan apakah sebuah tren lebih mungkin berlanjut, atau justru akan segera breakout.
Sekaligus, mengidentifikasi kekuatan tren adalah salah satu parameter terpenting dalam analisis teknis. Setelah cukup banyak latihan mengamati grafik, kamu bisa menilai kuat atau lemahnya tren hanya dengan melihat grafik.
Ingatlah bahwa ketiga metode di atas sama efektifnya di bear market maupun di bull market.
Baik kamu sedang menilai kekuatan tren atau mengidentifikasi level kunci, hal terbaik yang bisa kamu lakukan sebagai trader adalah kembali ke dasar. Setiap pasar memiliki ceritanya sendiri, dan setiap cerita bisa dibaca melalui swing high dan swing low.
Seperti yang sering saya katakan, sebagai trader, tugasmu bukanlah memprediksi apa yang akan terjadi selanjutnya. Tugasmu adalah mengumpulkan petunjuk yang ditinggalkan pasar, dan menggabungkannya sehingga probabilitas berpihak kepadamu; dan setiap petunjuk yang mungkin, berasal dari ritme naik-turun alami pasar.