Risiko bukan sekadar bagian dari trading. Dalam trading, risiko itu sendiri adalah "inti dari permainan".
Ini adalah kalimat yang diucapkan oleh psikolog trading terkenal sekaligus ahli pengembangan sistem trading, Van K. Tharp, saat mewawancarai trader legendaris top, Ed Seykota.
Tanya: Selain "kapan uang pasar menjadi uangmu", apakah kamu pernah mempelajari ide-ide penting lain tentang position sizing? Jika ada, apa itu?
Jika kamu diminta memberikan 10 aturan tentang position sizing, apa saja yang akan kamu berikan?
Ed Seykota:
Mengambil pertanyaan seperti "kapan uang pasar menjadi uangmu" lalu "direnungkan berulang-ulang", menurut saya lebih mirip "gangguan matematis".
Saya tidak mengerti apa yang kamu maksud dengan "memainkan berbagai ide". Menurut saya, entah kamu benar-benar sudah memikirkan sesuatu sampai tuntas, atau kamu sama sekali belum memikirkannya.
Mengenai position sizing, aturan saya adalah sebagai berikut:
Posisi harus cukup besar, sehingga ketika kamu profit, keuntungannya benar-benar berarti.
Posisi juga harus cukup kecil, sehingga ketika kamu rugi, kamu masih mampu menanggungnya secara finansial maupun mental.
Jika tidak ada ruang tumpang tindih antara aturan pertama dan kedua, maka jangan trading.
Jangan memaksakan menambahkan banyak aturan yang tidak berguna hanya demi mencapai sepuluh aturan.
1% dari total dana akun adalah alokasi risiko yang paling ideal bagi seorang trader. Artinya, jika kamu trading dengan akun $25.000 (sekitar Rp 400 juta), maka kamu hanya boleh menanggung risiko maksimal $250 (sekitar Rp 4 juta) per transaksi.
Misalkan kamu menemukan saham kuat yang akan breakout ke level tertinggi baru, dan bersiap mengikuti breakout tersebut, maka stop loss kamu harus dikendalikan dalam batas $250.
Jika kamu beli 100 lembar saham dengan harga $100 per lembar, maka stop loss kamu harus ditempatkan di $97,50.
Jika kamu beli 250 lembar saham dengan harga $100 per lembar, maka stop loss kamu harus ditempatkan di $99.
Baik itu saham, emas, atau aset lainnya, volatilitas aset itu sendiri yang akan menentukan ukuran posisi kamu. Jika suatu saham rata-rata bergerak $3 per hari, maka kamu mungkin hanya bisa trading maksimal 50 lembar.
Stop loss itu seperti polis asuransi, yang membantumu menghindari kerugian besar yang bersifat menghancurkan.
Jika kamu beli saham di harga $100, dan harga turun ke level stop loss, kamu harus langsung exit.
Inilah yang membedakan pemenang dan pecundang di pasar: "Kontrol risiko."
"Jangan pernah mempertaruhkan lebih dari 1% dari total dana pada transaksi apa pun. Karena ketika saya hanya menanggung risiko 1%, saya bisa tetap bersikap acuh terhadap transaksi mana pun. Menjaga risiko tetap kecil dan konsisten itu sangat penting." — Larry Hite
Sebagai trader, pada akhirnya kamu pasti akan mengalami 10 kerugian beruntun.
Bahkan sistem mean reversion dengan ekspektasi jangka panjang yang sangat tinggi pun bisa mengalami 10 kerugian beruntun ketika menghadapi kondisi pasar super trending.
Di kasino Las Vegas, situasi di mana roulette keluar merah atau hitam 10 kali berturut-turut juga jauh lebih umum daripada yang dibayangkan para penjudi.
Jadi pertanyaan sebenarnya adalah, ketika hari itu tiba, apakah kamu ingin akunmu hanya drawdown 10%, atau kamu ingin karena satu rangkaian kerugian, akunmu langsung terkena pukulan berat 50%—70% bahkan margin call?
Pilihan ada di tanganmu sendiri.
Menang atau kalahnya satu transaksi tidak mendefinisikan dirimu
"Sistem trading tidak perlu terus diganti. Yang benar-benar penting adalah: trader harus membangun sistem trading yang sesuai dengan kepribadiannya sendiri." — Ed Seykota
Trader sering kali melakukan kesalahan-kesalahan psikologis, dan kesalahan-kesalahan ini cukup untuk dengan cepat menghancurkan karier trading mereka. Berikut beberapa contoh tipikalnya:
◍ Mereka menanggung risiko melebihi kemampuan mereka. Ketika tekanan mulai mendominasi, trader akan mulai membuat keputusan yang buruk.
◍ Mereka mulai "jatuh cinta" pada transaksi mereka. Mereka mengabaikan stop loss, terus memperbesar kerugian, hanya karena mereka ingin membuktikan bahwa mereka benar.
◍ Ego mereka mulai mendominasi trading. Mereka lebih peduli membuktikan betapa pintar dan hebatnya mereka, daripada fokus pada benar-benar menghasilkan profit.
◍ Sistem trading mereka tidak cocok dengan kepribadian atau gaya hidup mereka. Misalnya, orang yang menyukai adrenalin cepat, tidak cocok untuk melakukan investasi pertumbuhan jangka panjang (trading jangka panjang).
◍ Setelah beberapa kali rugi beruntun, trader mulai panik dan sering mengganti sistem. Tapi jika kamu memiliki sistem yang sudah teruji, kamu harus tetap menjalankannya demi keuntungan jangka panjang.
Berikut beberapa solusinya:
✔ Pertama-tama pahami bahwa setiap transaksi memiliki risiko kerugian, dan terima hal itu sejak awal. Jika kamu sudah mulai merasa tertekan, itu tandanya posisi kamu terlalu besar, segera kurangi posisi.
✔ Saat stop loss atau trailing stop pertama kali tersentuh, kamu harus langsung mengeksekusinya. Percayalah, mempertahankan posisi rugi hanya akan membebani saraf dan kondisi mentalmu, sama sekali tidak sepadan.
✔ Jika kamu adalah trader yang disiplin, maka menang atau kalahnya setiap transaksi sebenarnya milik sistemmu, bukan milikmu pribadi. Setiap profit atau loss tidak mewakili kemenangan atau kegagalan kepribadianmu.
✔ Trader trend akan menghasilkan profit ketika pasar menunjukkan tren; day trader akan menghasilkan profit ketika kondisi entry yang telah mereka tentukan terpenuhi.
✔ Kamu harus terus menyesuaikan: instrumen yang kamu tradingkan, timeframe yang kamu gunakan, dan ukuran posisi kamu, sampai kamu benar-benar merasa nyaman dengan seluruh trading plan kamu.
✔ Pada akhirnya, kamu harus terlebih dahulu memahami: "Sebenarnya kamu ini trader seperti apa." Temukan sistem yang benar-benar cocok untukmu, lalu jalankan secara konsisten dalam jangka panjang. Hanya dengan begitu, tingkat keberhasilan trading kamu akan benar-benar mulai meningkat.