Artikel ini akan membahas 3 teknik inti manajemen risiko trading: perlindungan risiko, profil risiko, dan manajemen trading aktif, untuk membantu trader mengendalikan kerugian, melindungi modal, dan menguasai metode kunci mencapai trading yang konsisten dalam jangka panjang.
Pengantar Manajemen Risiko Trading
Pengetahuan trading, termasuk analisis teknikal, strategi trading yang baik, serta kemampuan analisis grafik, semuanya wajib dikuasai trader, tetapi hanya dengan itu saja tidak cukup untuk membuatmu menjadi trader yang sukses.
Artikel hari ini mungkin salah satu artikel terpenting yang pernah kamu baca. Artikel ini akan membahas manajemen risiko. Karena jika kamu mampu menerapkan strategi manajemen risiko ini, saya jamin kamu tidak akan lagi membiarkan akun trading-mu mengalami kerugian yang menghancurkan, bahkan mungkin perlahan-lahan menjadi trader yang bisa menghasilkan profit.
Manajemen risiko adalah fondasi dari sistem trading yang sukses. Secara garis besar kita bisa membagi manajemen risiko menjadi 3 kategori:
1. Perlindungan risiko
2. Profil risiko
3. Manajemen trading aktif
Berikut penjelasan detail ketiga aspek tersebut.
Perlindungan Risiko
Untuk mencegah suatu risiko, pertama-tama kamu harus memahami apa yang sebenarnya sedang kamu cegah.
Secara sederhana, perlindungan risiko adalah mencegah potensi kerugian. Kerugian adalah bagian yang tak terhindarkan dalam permainan trading. Kita perlu menerima kerugian dan menganggapnya sebagai biaya yang harus ditanggung dalam menjalankan bisnis trading. Bahkan trader terbaik di dunia pun mengalami banyak kerugian.
Dalam situasi trading apa pun, akar penyebab kerugian selalu berkaitan dengan rasa takut dan keserakahan trader.
Mari kita mulai dari rasa takut.
Rasa Takut
Rasa takut adalah pengingat bahwa ada sesuatu yang mungkin bermasalah dengan trade yang sedang kamu lakukan, dan kamu harus mencari tahu apa yang sebenarnya salah.
Rasa takut dalam trading muncul terutama dalam dua cara:
❍ Takut ketinggalan kesempatan (FOMO)
❍ Takut mengalami kerugian besar
Untuk kedua rasa takut ini, cara pencegahannya juga berbeda.
Berikut penjelasan masing-masing.
Cara Mencegah Takut Ketinggalan Kesempatan (FOMO)
Bagaimana FOMO memengaruhi trading kita?
● Takut ketinggalan kesempatan trading bisa menyebabkan trader entry terlalu awal. Sebagian besar dari kita sangat takut kehilangan peluang profit, sehingga sering cenderung trading terlalu awal.
● Kesalahan umum adalah berpikir: "Menunggu sebentar tidak masalah, karena hasil akhirnya akan membuktikan trade ini benar." Tapi bagaimana kamu tahu hanya perlu menunggu sebentar? Itu hanya asumsi.
● Namun, masalah yang lebih serius adalah penilaian yang menjadi dasar trade-mu mungkin saja tidak valid. Karena peluang trading ini belum berkembang sepenuhnya, berbagai masalah bisa muncul. Begitu masalah muncul, posisi ini kemungkinan besar akhirnya akan terkena stop loss.
Cara Menghindari Takut Ketinggalan Kesempatan (FOMO)
Sayangnya, tidak ada alat mekanis yang bisa menjamin kamu tidak akan pernah trading terlalu awal.
Metode paling efektif untuk mencegah FOMO adalah: disiplin, dan keyakinan pada metode trading-mu sendiri.
4 Langkah Menjaga Disiplin Trading
1. Tentukan arah berdasarkan pasar itu sendiri, bukan berdasarkan harapan, keserakahan, atau rasa takutmu. Sebagian besar trader tidak bisa melihat pasar secara objektif, sehingga perlu mengendalikan penilaian subjektif mereka terhadap pasar.
2. Sebelum melakukan trade, tentukan terlebih dahulu risiko yang bersedia kamu tanggung.
3. Lakukan stop loss tanpa ragu.
4. Gunakan rencana money management yang sistematis.
Keyakinan
Keyakinan pada metode trading-mu sendiri akan memberikan pengaruh besar terhadap hasil trading. Jika kamu tidak bisa sepenuhnya percaya pada metode trading-mu, sulit untuk benar-benar menghasilkan profit darinya.
Namun, masalahnya adalah jika kamu belum menghasilkan profit melalui metodemu, kamu juga sulit membangun keyakinan yang tulus terhadapnya. Untuk menjadi trader yang konsisten profit, kamu harus membangun metode trading yang sesuai dengan karakteristik kepribadianmu.
Saat menyusun trading plan, kamu harus memahami logika di balik setiap langkahnya. Ini akan memperkuat keyakinanmu pada metode trading, sekaligus membuatmu lebih disiplin dalam menjalankan trading plan-mu.
Keyakinan adalah percaya pada kemampuan diri sendiri untuk menyelesaikan sesuatu.
Untuk sukses dalam trading, kita harus memiliki metode trading yang memiliki edge, sekaligus terus menggunakan metode tersebut untuk trading dalam waktu yang cukup lama.
Untuk akhirnya sukses, kamu perlu mengabaikan hasil dari satu trade individual. Jika kamu tidak bisa sepenuhnya mempercayai metode trading-mu, sulit melakukan hal ini. Jika kamu memiliki cukup keyakinan pada metode trading-mu, maka kerugian seharusnya tidak membuatmu terlalu khawatir. Terima kerugian itu, lalu lanjutkan ke trade berikutnya.
Trading yang sukses bukan berarti sepenuhnya menghindari kerugian, melainkan — menghasilkan uang lebih banyak daripada yang hilang. Untuk setiap trade yang kita lakukan, pada akhirnya ada 4 kemungkinan hasil:
a) Kerugian besar
b) Kerugian kecil
c) Profit kecil
d) Profit besar
Sekarang, yang harus kita lakukan adalah menghilangkan "kerugian besar" dari 4 hasil tersebut. Profit kecil bisa menutupi kerugian kecil, dan yang tersisa pada akhirnya adalah profit besar. Karena itu, kamu harus memastikan trading plan-mu mampu menghilangkan kemungkinan terjadinya kerugian besar.
Seperti yang dikatakan Ed Seykota: "Jika kamu tidak mau menerima kerugian, kamu tidak akan bisa menghasilkan uang. Ini seperti hanya mau menghirup napas, tapi tidak mau menghembuskannya."
Takut Mengalami Kerugian Besar
Rasa takut lainnya adalah takut mengalami kerugian besar. Cara mengatasi rasa takut ini adalah dengan menggunakan stop loss order.
Stop loss order memberikan rasa aman tertentu bagi trader, karena bahkan jika penilaian pasarnya sangat salah, ia bisa segera stop loss sebelum kerugian berubah menjadi bencana.
Jika entry terlalu awal karena FOMO, maka posisi stop loss mungkin terlalu dekat dengan titik entry, tidak mampu menahan pergerakan harga berikutnya yang belum terjadi dan tidak bisa diprediksi dalam trading range. Dalam kasus ini, bahkan jika penilaian arah pasar pada akhirnya benar, posisi bisa terkena stop loss lebih awal, sehingga menghasilkan kerugian.
● Menggunakan stop loss dengan benar berarti mempertahankan risk-reward ratio yang menguntungkan. Tapi perlu diingat, jangan karena terlalu menekankan hal ini lalu menetapkan stop loss terlalu ketat, sehingga terlalu membatasi ruang pergerakan normal harga.
● Setelah bertahun-tahun praktik, kami menemukan bahwa risk-reward ratio yang umumnya wajar adalah 3:1. Pertama, ini mencegah terjadinya kerugian besar; kedua, ini memberikan ruang bagi harga untuk bergerak normal. Menganggap setiap trade bisa menangkap titik balik harga secara presisi adalah tidak realistis.
● Setelah membuka posisi long, harga mungkin turun sedikit terlebih dahulu, baru kemudian naik; setelah membuka posisi short, harga juga mungkin naik sedikit terlebih dahulu, baru kemudian turun. Karena itu, kamu harus memberikan ruang toleransi tertentu untuk penilaianmu.
Stop Loss Order
Bagaimana cara menetapkan stop loss order dengan benar?
Langkah 1: Identifikasi struktur pasar
Langkah 2: Tempatkan stop loss di luar struktur pasar
Berikut penjelasan detailnya.
Langkah 1: Identifikasi Struktur Pasar
Struktur pasar mencakup level support dan resistance, swing high, swing low, higher high dan higher low, lower high dan lower low, dan sebagainya.
Langkah 2: Tempatkan Stop Loss di Luar Struktur Pasar
Ini adalah posisi-posisi penting di pasar, karena sebagian besar trader akan menempatkan stop loss di sekitar level-level ini.
Mengapa?
Karena begitu harga menembus level-level ini, berarti logika trading mereka yang semula sudah tidak valid, dan berarti penilaian mereka terhadap trade ini mungkin salah. Namun, menempatkan stop loss di sekitar level-level ini memiliki satu masalah: smart money (dana institusi) mudah memicu stop loss tersebut.
Mengapa mereka melakukan itu?
Smart money perlu mencari dan mendapatkan volume, yaitu tempat di mana likuiditas berada. Mereka akan fokus mencari area di mana volume dan likuiditas terkonsentrasi, dan mengambil likuiditas yang mereka butuhkan dari sana.
Bagaimana mereka melakukannya?
Harga yang tiba-tiba menusuk cepat ke suatu arah dapat memicu stop loss order yang terkonsentrasi di sisi jual atau beli.
Mencegah Keserakahan
Keserakahan bisa menjadi masalah yang lebih mendasar. Ketika keserakahan menyebabkan kerugian, yang hilang sering kali adalah profit yang sebenarnya sudah diperoleh.
Dari sudut pandang objektif, ketika sebuah trade sudah menghasilkan profit yang wajar, kamu mungkin berpikir trader seharusnya sangat senang mengamankan profit. Sayangnya, kenyataan tidak selalu demikian.
Mari kita analisis situasi ini.
● Ketika pasar sudah memberikan sejumlah profit, trader sering tidak merasa puas, melainkan ingin mendapatkan lebih banyak profit, inilah keserakahan.
● Keinginan akan lebih banyak profit membuat trader mulai menganalisis pasar dari sudut pandang "ingin menghasilkan lebih banyak uang", bukan berdasarkan kondisi pasar yang sebenarnya. Pada titik ini, keserakahan sudah mendominasi, dan profit yang sudah diperoleh mulai terancam.
● Mari lihat contoh. Sebuah saham sudah berada dalam tren naik untuk waktu yang cukup lama, dan harga terus naik secara stabil. Saat ini ada dua alasan kuat untuk mempertimbangkan menjual saham ini: pertama, saham sudah memasuki kondisi overbought; kedua, harga sudah mencapai target kenaikan atau level resistance kunci.
Contoh Manajemen Risiko Trading
Misalkan kamu membuka posisi long saat breakout, dan setelah entry pasar langsung bergerak ke arah yang menguntungkanmu.
Tidak lama kemudian, kamu sudah mendapatkan floating profit 3R, dan strategi trading-mu mengatakan kamu harus exit dari trade ini karena pasar sudah mencapai level resistance kunci.
Tapi, kamu berkata pada diri sendiri: "Grafik ini terlihat terlalu kuat, saya harus terus memegang trade ini untuk mendapatkan profit yang lebih besar."
Jadi, kamu terus memegang posisi.
Kemudian, pasar mulai berbalik arah perlahan, dan secara bertahap memakan sebagian floating profit-mu.
Saat ini, kamu mulai merasa cemas, tapi kembali berkata pada diri sendiri: "Tidak apa-apa, kalau pasar naik sedikit lagi, saya akan exit."
Sayangnya, pasar tidak naik lagi, melainkan terus retrace, dan akhirnya memicu stop loss-mu.
Cara Mengatasi Keserakahan
Tempatkan sell order atau buy-to-cover order terlebih dahulu di area target yang diharapkan. Atau, setelah harga mencapai posisi target yang diharapkan, ketatkan stop loss (gunakan trailing stop order).
Tempatkan Sell Order atau Buy-to-Cover Order Terlebih Dahulu di Area Target yang Diharapkan
Cara untuk sepenuhnya menghindari pengaruh keserakahan adalah dengan mengambil langkah pencegahan terlebih dahulu saat membuka posisi. Salah satu metode paling efektif adalah menentukan area target terlebih dahulu, dan menempatkan sell order atau buy-to-cover order di area tersebut sebelumnya. Ketika harga mencapai posisi target ini, posisi akan ditutup secara otomatis, sehingga melindungi profit yang sudah diperoleh. Dengan begitu, keserakahan bahkan tidak memiliki kesempatan untuk ikut campur dalam keputusan trading.
Trailing Stop Order
Pertama-tama kita tentukan area di mana kita bersedia trading, lalu cari posisi entry yang seideal mungkin di dalam area tersebut. Stop loss harus ditempatkan di posisi di mana begitu harga menyentuhnya, berarti logika trading yang semula sudah tidak valid.
Tidak setiap posisi pada akhirnya akan mencapai target yang ditentukan. Dengan kata lain, tidak setiap trade akan menyentuh target harga. Lalu, bagaimana melindungi posisi untuk trade yang pada akhirnya tidak mencapai target harga? Jika stop loss order digunakan dengan benar sepanjang proses memegang posisi, ia bisa sangat efektif melindungi trade semacam ini.
Ini berarti, seiring perkembangan pergerakan harga, posisi stop loss perlu terus disesuaikan. Target pertama penyesuaian stop loss adalah memindahkan stop loss secepat mungkin ke harga entry trade, yaitu posisi break-even. Begitu hal ini dilakukan, dana trader bisa terbebas dari risiko kerugian, dan bisa sedikit lebih tenang. Namun, baik penyesuaian ini maupun penyesuaian stop loss berikutnya, tidak boleh dilakukan secara terburu-buru. Jika tidak, meskipun modal awal mungkin terlindungi, profit yang akhirnya bisa diperoleh mungkin sangat terbatas.
Fase konsolidasi yang muncul selama pergerakan harga sangat penting. Fase-fase ini bisa memberitahumu kapan bisa memindahkan stop loss, dan yang lebih penting, bisa memberitahumu ke posisi mana stop loss harus dipindahkan. Fase konsolidasi biasanya terwujud sebagai koreksi harga normal atau konsolidasi sideways.
Begitu ada tanda-tanda bahwa pergerakan sebelumnya sedang pulih, stop loss harus ditempatkan kembali di atas atau di bawah posisi ekstrem dari area konsolidasi tersebut. Tapi jangan terlalu terburu-buru. Jika kamu tidak bisa menemukan bukti price action yang jelas bahwa pergerakan sebelumnya akan segera pulih, memindahkan stop loss terlalu awal bisa menyebabkanmu terkena stop loss lebih awal — mungkin karena retracement sedikit melebihi ekspektasi, atau karena munculnya shakeout tak terduga atau fake breakout ke atas saat konsolidasi berakhir.
Profil Risiko
Sebagai contoh, Xiao Wang adalah trader agresif yang menanggung risiko 20% dari dana akun per trade. Lao Lin adalah trader konservatif yang menanggung risiko 2% dari dana akun per trade.
Keduanya menggunakan strategi trading yang sama, dengan win rate 50%, dan rata-rata risk-reward ratio 1:2.
Hasil 10 trade berikutnya adalah:
Rugi, rugi, rugi, rugi, rugi, rugi, profit, profit, profit, profit.
Hasil Xiao Wang adalah sebagai berikut:
-20% -20% -20% -20% -20% = margin call
Hasil Lao Lin adalah sebagai berikut:
-2% -2% -2% -2% +4% +4% +4% +4% = +8%
Manajemen risiko dalam trading bisa menentukan apakah kamu seorang trader yang konsisten profit, atau trader yang terus-menerus rugi.
Ingatlah, bahkan jika kamu memiliki strategi trading terbaik di dunia, tanpa manajemen risiko yang tepat, kamu tidak akan sukses dalam trading.
Apa saja yang termasuk dalam profil risiko?
◔ Berapa risk-reward ratio yang digunakan per trade?
◔ Berapa persen maksimal dari dana akun yang bersedia kita tanggung per trade, per hari, atau per minggu?
◔ Berapa posisi maksimal yang bisa digunakan per trade?
Risk-Reward Ratio
Risiko adalah jumlah kerugian yang bersedia ditanggung trader ketika trade terkena stop loss. Menghitung risiko sebuah trade (jarak stop loss) bisa dilakukan dengan mengukur jarak antara harga entry dan harga stop loss.
Reward (imbal hasil) adalah jarak harga antara harga entry dan harga target take profit. Risk-reward ratio dalam trading digunakan untuk mengukur hubungan antara potensi kerugian (risiko) dan potensi profit (reward) dari sebuah trade.
Bagaimana Menghitung Risk-Reward Ratio?
Risk-reward ratio (R:R) = total risiko per trade ÷ total reward trade tersebut
Untuk satu atau beberapa trade, berapa persen maksimal dari dana akun yang bersedia kita tanggung?
◔ Tanggung risiko hanya sebagian kecil dari total dana akun per trade. Risiko harus dikendalikan pada level rendah, misalnya menanggung risiko 0,5%~1% dari dana akun per trade.
◔ Tanggung risiko hanya sebagian kecil dari total dana akun per hari. Ini disebut daily loss limit. Misalnya, bisa membuat aturan: jika akumulasi kerugian dalam satu hari mencapai 3%~4% dari total dana akun, berhenti trading hari itu.
◔ Tanggung risiko hanya sebagian kecil dari total dana akun per minggu. Ini disebut weekly loss limit. Misalnya, bisa membuat aturan: jika akumulasi kerugian dalam satu minggu mencapai 5% dari dana akun, maka berhenti trading selama sisa minggu tersebut.
Position Sizing
4 Langkah Menentukan Ukuran Posisi Maksimal
Langkah 1: Berdasarkan persentase tertentu dari ukuran dana akun, tentukan jumlah risiko maksimal yang diizinkan per hari.
Langkah 2: Bagi jumlah risiko maksimal yang diizinkan per hari dengan rata-rata jumlah trade per hari, untuk menghitung jumlah risiko yang diizinkan per trade.
Langkah 3: Dengan menghitung jarak antara harga entry dan harga stop loss, tentukan risiko satu trade (yaitu jarak stop loss).
Langkah 4: Bagi jumlah risiko maksimal yang diizinkan per trade dengan risiko satu trade, untuk menghitung ukuran posisi maksimal.
Berikut penjelasan melalui sebuah contoh:
Dana akun = 100.000
Persentase risiko maksimal harian = 2%
Jumlah risiko maksimal harian = dana akun × persentase risiko maksimal harian
= 100.000 × 2% = 2.000
Jumlah trade per hari = 2
Jumlah risiko per trade = jumlah risiko maksimal harian ÷ jumlah trade per hari
= 2.000 ÷ 2 = 1.000
Hitung risiko satu trade (jarak stop loss) = 5
Ukuran posisi maksimal = 1.000 ÷ 5 = 200 saham
Semakin besar jarak stop loss (risiko), semakin kecil ukuran posisi yang seharusnya; sebaliknya, semakin kecil jarak stop loss, semakin besar ukuran posisi yang bisa digunakan.
Selama mematuhi aturan manajemen risiko di atas dengan ketat, bahkan jika kita melakukan 10 trade, di mana 5 rugi dan hanya 5 profit, pada akhirnya kita tetap bisa mencapai profit secara keseluruhan.
Kesimpulan: Manajemen Trading Aktif
Sebagian besar trader terlalu fokus pada entry, karena entry biasanya adalah fase paling mendebarkan dalam seluruh trade. Tapi faktanya, yang benar-benar menentukan profit atau rugi akhirmu adalah exit, bukan entry.
Bahkan jika kamu memiliki titik entry trading yang bagus, jika manajemen trading tidak tepat dan kamu exit pada waktu yang paling buruk, pada akhirnya kamu tetap bisa mengalami kerugian.