Dalam trading, orang terobsesi untuk membeli dan menjual di titik dasar/puncak yang ideal, dan pola pikir ini mudah membuat trader membuka posisi terlalu dini, atau buru-buru mengambil profit. Lalu, apakah ada sistem trading yang memungkinkan trader membuat pilihan yang tepat setiap kali pasar mengalami titik balik besar?
Strategi trading Donchian Channel adalah indikator analisis teknikal yang diciptakan oleh Richard Donchian, terutama digunakan untuk trend following trading.
Donchian Channel terdiri dari tiga garis:
❍ Upper band: harga tertinggi dalam N kandil terakhir
❍ Lower band: harga terendah dalam N kandil terakhir
❍ Middle band: nilai rata-rata upper dan lower band
Berdasarkan pengalaman banyak trader, parameter Donchian Channel yang paling umum digunakan dan dianggap terbaik adalah 20. Banyak trader menganggap harga yang breakout ke atas upper band atau breakdown ke bawah lower band sebagai sinyal trading yang layak untuk diambil tindakan.
Dalam panduan lengkap Donchian Channel ini, kamu akan mempelajari segala hal yang perlu diketahui tentang indikator ini.
Banyak isinya, mari kita mulai.
Sejarah Donchian Channel Asli —— Richard Donchian
Sebelum membahas cara menerapkan Donchian Channel dalam trading, mari kita kenali dulu penciptanya——Richard Donchian.
Richard Donchian lahir pada tahun 1905 di Connecticut, adalah seorang trader komoditas dan futures. Ia adalah pelopor di bidang managed futures, dan dianggap oleh banyak orang sebagai pendiri industri managed futures.
Orang tua Donchian adalah imigran dari Armenia, yang pindah ke Amerika sekitar 20 tahun sebelum kelahirannya. Untuk mencari nafkah, mereka menjalankan toko karpet oriental, dan awalnya berharap Richard akan terlibat dalam bisnis keluarga.
Meskipun demikian, Richard lulus dari Universitas Yale dengan gelar sarjana ekonomi, kemudian meraih gelar MBA dari MIT Sloan School of Management. Namun, pada akhirnya ia tetap tidak bisa sepenuhnya lepas dari bisnis keluarga, dan langsung kembali ke toko untuk bekerja sebagai asisten setelah lulus.
Pada masa inilah Richard Donchian mulai tertarik pada pasar saham. Setelah membaca karya semi-otobiografi Jesse Livermore "Reminiscences of a Stock Operator", ia memutuskan untuk mencoba sendiri di pasar keuangan. Namun, crash pasar saham tahun 1929 membuatnya mengalami beberapa kerugian, yang justru memicu minatnya yang kuat terhadap analisis teknikal, berharap dapat lebih baik menganalisis harga pasar.
Pada awal tahun 1930-an, ia menjadi penerbit layanan pasar saham terkenal bernama Security Pilot, kemudian menjabat sebagai analis sekuritas dan manajer klien.
Setelah menyelesaikan dinas militer, Richard Donchian mulai melakukan penelitian yang akhirnya berkembang menjadi Donchian Channel yang kita kenal sekarang. Ia secara bertahap beralih fokus ke pengembangan strategi dan sistem trading yang teratur, dan membentuk metode trend following trading yang kemudian terkenal.
Faktanya, Richard Donchian diakui sebagai bapak trend following trading, dan indikator Donchian Channel adalah perwujudan langsung dari pemikiran tersebut.
Dua fakta menarik tentang Richard Donchian:
✔ Meskipun Richard sudah tertarik pada pasar saham sejak usia relatif muda, ia tidak menghasilkan banyak uang di awal karier tradingnya.
✔ Ia selalu mencari metode trading yang lebih konservatif di pasar futures dan saham, di mana saham dengan volatilitas rendah sangat disukainya.
Bagaimana Donchian Channel Dihitung?
Seperti indikator price channel lainnya (misalnya Bollinger Bands dan Keltner Channel), Donchian Channel tetap menjadi salah satu indikator trading paling populer. Meskipun demikian, cara perhitungannya sangat sederhana, namun sangat efektif.
Donchian Channel terdiri dari tiga garis
Secara spesifik sebagai berikut:
❍ Upper band: harga tertinggi dalam N periode terakhir (kandil)
❍ Middle band: nilai rata-rata upper dan lower band
❍ Lower band: harga terendah dalam N periode terakhir
Kamu bisa memilih sendiri pengaturan parameter yang akan digunakan, tetapi perlu diperhatikan: parameter terbaik akan sangat bervariasi tergantung timeframe dan pasar yang digunakan.
Namun, parameter default adalah 20 periode, dan ini juga merupakan pengaturan yang digunakan oleh sebagian besar investor dan trader saat ini.
Meskipun demikian, sangat penting bagimu untuk mencoba kombinasi parameter lain. Kami sendiri jarang menggunakan periode default dalam trading nyata, karena dalam banyak kasus, parameter lain sering memberikan hasil yang lebih baik.
Di bagian selanjutnya artikel ini, kita akan membahas secara detail cara memilih pengaturan parameter yang paling tepat.
Bagaimana Menggunakan Donchian Channel dalam Trading?
Tergantung pada gaya tradingmu, kegunaan Donchian Channel sangat beragam. Ada strategi yang menggunakan Donchian Channel untuk memfilter peluang trading berkualitas rendah; ada strategi yang sepenuhnya mengandalkan Donchian Channel sebagai sinyal entry.
Namun, sebelum membahas dua pendekatan trading utama Donchian Channel, mari kita lihat satu kegunaan yang sangat penting namun sering diabaikan: menggunakan Donchian Channel untuk mengukur tingkat volatilitas pasar.
Menilai volatilitas pasar melalui lebar channel
Karena upper dan lower band Donchian Channel masing-masing menunjukkan harga tertinggi dan terendah dalam periode yang dipilih, jarak antara kedua garis tersebut secara alami menjadi cara untuk mengukur volatilitas pasar saat ini.
Ini akan sangat berharga ketika kamu perlu mendefinisikan lingkungan volatilitas rendah atau tinggi dalam strategi tradingmu. Kamu juga bisa menggabungkan metode ini dengan cara penerapan Donchian Channel yang akan dijelaskan nanti di artikel.
Setelah membahas cara menggunakan Donchian Channel untuk mengukur volatilitas pasar, selanjutnya kita akan mendalami mean reversion dan trend following——dua pendekatan trading inti yang merupakan aplikasi utama Donchian Channel.
Trend Following
Seperti yang kamu ketahui, trend following adalah filosofi trading yang berusaha menangkap momentum pasar dengan masuk searah tren. Asumsi intinya sangat sederhana, yaitu pasar yang sudah memiliki momentum lebih cenderung terus bergerak ke arah saat ini.
Seperti yang mungkin masih kamu ingat, inilah gaya trading yang digunakan Richard Donchian sendiri, dan juga tujuan awal ia menciptakan Donchian Channel. Oleh karena itu, menggabungkan Donchian Channel dengan metode trading trend following adalah penggunaan asli indikator ini, dan hingga hari ini, masih banyak trader yang menggunakannya dengan cara ini.
Lalu, bagaimana cara mengkonfirmasi sinyal entry?
Metode yang paling umum adalah:
✔ Harga breakout ke atas upper band dianggap sinyal bullish.
✔ Harga breakdown ke bawah lower band dianggap sinyal entry short.
Bagaimana Mendapatkan Profit dalam Breakout Trading
Setelah entry breakout trading, ada berbagai cara untuk exit. Berikut tiga metode exit yang paling umum:
1. Trailing stop
Beberapa trader sangat percaya bahwa cara terbaik untuk menangkap tren setelah breakout adalah menggunakan trailing stop yang mengikuti pergerakan harga. Tujuan dari metode ini adalah untuk tetap berada dalam tren selama mungkin, sehingga mendapatkan swing yang lebih besar.
Exit berdasarkan waktu
Kamu juga bisa menggunakan metode exit yang sangat sederhana ini. Keluar setelah posisi mencapai jumlah kandil yang tetap. Meskipun metode ini terlihat sangat sederhana, dalam beberapa kondisi pasar justru sangat efektif.
Saran kami adalah, kamu bisa terlebih dahulu menghitung rata-rata durasi tren di pasar target, lalu berdasarkan itu, menilai kapan biasanya lebih masuk akal untuk keluar dari trading.
Di sini tidak perlu presisi sampai detail terkecil, yang penting adalah kamu memiliki pemahaman umum tentang "berapa lama biasanya tren bisa berlangsung" di pasar tersebut.
Stop loss tetap + target profit
Ini adalah praktik umum lain yang bisa kamu gunakan, sederhananya, yaitu menetapkan stop loss dan target profit secara bersamaan, dan akhirnya, level mana pun yang tersentuh lebih dulu, trading berakhir di posisi tersebut.
Hal penting yang perlu diingat di sini adalah, kamu harus berusaha membuat risk-reward ratio lebih besar dari 1. Ini berarti, potensi profit dari suatu trading harus lebih besar dari potensi kerugiannya.
Sebagai contoh: jika target profit suatu trading ditetapkan pada jarak $200 (sekitar Rp3.200.000) dari harga entry, dan stop loss ditetapkan $100 (sekitar Rp1.600.000) di bawah harga entry, maka risk-reward ratio trading tersebut adalah 2.
Sebaliknya, jika kamu menanggung risiko $500 (sekitar Rp8.000.000), tetapi hanya mengharapkan keuntungan $100 (sekitar Rp1.600.000), maka risk-reward ratio-mu hanya 0,2, dan untuk sebagian besar strategi trading, struktur seperti ini tidak dapat diterima.
Apakah Trend Following dengan Donchian Channel Asli Dapat Ditradingkan?
Jawabannya adalah di beberapa pasar, mungkin bisa. Misalnya di pasar komoditas energi dan sejenisnya yang sangat trend following, sistem berbasis breakout Donchian Channel seperti di atas, dalam jangka panjang memiliki potensi profit tertentu.
Tetapi perlu ditegaskan bahwa menggunakan sistem ini secara terpisah bukanlah sistem trading yang unggul. Sistem ini harus digabungkan dengan filter dan aturan tambahan lainnya, agar dapat secara efektif meningkatkan probabilitas keberhasilan breakout trading.
Namun, di pasar saham dan ekuitas lainnya, kamu mungkin lebih baik mempertimbangkan menggunakan Donchian Channel untuk mean reversion trading!
Mean Reversion
Mean reversion adalah karakteristik di mana beberapa pasar setelah bergerak berlebihan ke satu arah, cenderung kembali ke "level normalnya". Karakteristik ini sangat jelas terlihat di pasar saham dan ekuitas, tetapi juga dapat diamati di pasar lainnya.
Ketika pasar bergerak terlalu jauh ke arah bawah, biasanya dianggap oversold; dan ketika pasar bergerak terlalu jauh ke arah atas, dianggap overbought.
Saat menggunakan Donchian Channel untuk mean reversion trading, kita menggunakan aturan yang sepenuhnya berlawanan dengan trend following. Artinya, harga breakout ke atas harga tertinggi sebelumnya dianggap sinyal short; harga breakdown ke bawah harga terendah sebelumnya dianggap sinyal long.
Saat ini kamu mungkin bertanya-tanya: karena sebelumnya disebutkan bahwa aturan terbalik dapat profitable dalam trend following, mengapa di sini "dibalik" juga bisa berhasil?
Jawabannya sederhana, semuanya tergantung pada pasar yang kamu tradingkan, timeframe, dan strategi spesifiknya.
Di beberapa pasar, metode mean reversion lebih efektif; di pasar lain, hanya strategi trend following yang berhasil.
Bagaimana Exit dari Mean Reversion Trading Berbasis Donchian Channel
Cara exit mean reversion trading sedikit berbeda dari strategi trend following.
Secara umum, dalam strategi mean reversion, semakin pasar bergerak ke arah yang merugikan, semakin besar "keunggulan" strategi. Karena itu, kamu tidak ingin stop loss terlalu dini. Terus terang, ketika harga sudah jelas bergerak melawanmu, probabilitas terjadinya reversal justru lebih tinggi.
Meskipun demikian, kami tetap menyarankan kamu untuk selalu menetapkan stop loss, hanya saja pastikan posisi stop loss cukup jauh. Jika tidak, kamu akan sering terkena stop out, yang akan sangat membatasi profitabilitas keseluruhan strategi.
Sedangkan untuk mekanisme take profit, kami menyarankan menggunakan semacam kondisi untuk menilai apakah pasar sudah tidak lagi dalam kondisi oversold. Kondisi ini dapat didefinisikan sebagai harga close di atas middle band (seperti yang disebutkan sebelumnya), atau dengan bantuan indikator momentum, seperti Relative Strength Index (RSI).
Salah satu cara exit mean reversion yang sangat kami sukai adalah menunggu RSI periode pendek naik melewati ambang batas tertentu sebelum keluar. Metode ini telah berkinerja baik selama bertahun-tahun, dan kami yakin kamu juga akan sering menggunakannya dalam trading nyata.
Perhatikan Arah Tren!
Saat menggunakan Donchian Channel untuk mean reversion trading, selalu memperhatikan arah tren keseluruhan adalah kebiasaan yang sangat baik.
Alasannya sebenarnya sangat sederhana.
Pasar yang berada dalam downtrend lebih mudah terus menciptakan low baru; sedangkan pasar yang berada dalam uptrend lebih mudah mengalami reversal.
Ini berarti, low 20 periode yang terbentuk dalam bull market, lebih mungkin memicu rebound dibandingkan low yang terbentuk dalam bear market.
Oleh karena itu, kami menyarankan menggunakan moving average 200 periode (MA-200) sebagai filter tren, untuk mengidentifikasi lingkungan pasar jangka panjang. Hanya ketika harga pasar bergerak di atas MA-200, pertimbangkan untuk melakukan mean reversion trading.
Pengaturan Parameter Terbaik Donchian Channel
Berdasarkan pengalaman banyak trader, parameter Donchian Channel yang paling umum digunakan adalah 20.
Kalau dipikir-pikir, ini sebenarnya masuk akal, karena satu bulan trading sedikit lebih dari 20 hari trading.
Namun, ini tidak berarti kamu harus terpaku pada parameter default.
Sebaliknya, kami selalu menyarankan kamu untuk menemukan pengaturan parameter yang paling sesuai dengan pasar dan timeframe yang kamu tradingkan melalui eksperimen.
Kami tentu berharap bisa memberitahumu "parameter tertentu yang optimal", tetapi kenyataannya, itu tidak mungkin.
Setiap pasar memiliki "karakternya" sendiri, dan reaksinya terhadap parameter indikator yang berbeda juga berbeda-beda. Karena itu, kamu harus mengujinya sendiri, mengamati kinerja pasar, timeframe, dan strategimu di bawah parameter yang berbeda.
Metode yang paling efektif adalah backtest, yaitu menggunakan software untuk mensimulasikan trading pada data historis.
Strategi Trading Donchian Channel
Setelah memahami cara kerja Donchian Channel secara mendalam, sekarang saatnya memperkenalkan beberapa strategi trading yang cukup umum di kalangan trader.
Perlu ditekankan secara khusus bahwa sebelum strategi apa pun digunakan dalam trading real, wajib dilakukan validasi.
Kamu tidak akan pernah bisa menentukan sebelumnya bagaimana pasar dan timeframe akan bereaksi; strategi yang efektif di satu pasar mungkin sama sekali tidak berhasil di pasar lain.
Meskipun demikian, kami tetap menganggap strategi berikut sangat cocok sebagai sumber inspirasi.
Jika kamu bertanya kepada kami: "Jika memulai dari nol, bagaimana membangun strategi trading dengan Donchian Channel?"
Jawabannya, kami pasti akan mencoba ide-ide di bawah ini.
Baiklah, mari kita bahas satu per satu.
#1 Strategi Donchian Channel Asli + MACD
Dalam strategi ini, kami mencoba menggabungkan indikator MACD dengan Donchian Channel asli, untuk menemukan momen di mana keduanya secara bersamaan menunjukkan pasar mungkin akan naik atau turun.
Lebih spesifiknya, ini adalah strategi tipe mean reversion, yang bertujuan mendapatkan profit ketika pasar dalam kondisi oversold:
✍ Ketika MACD membentuk golden cross positif, dan posisinya dekat dengan lower band, cari peluang long;
✍ Ketika MACD membentuk death cross, keluar dari trading.
Aturan entry strategi ini adalah sebagai berikut:
1. Pasar breakdown ke bawah lower band Donchian, atau baru saja mengalami breakdown baru-baru ini.
2. Muncul MACD golden cross, menunjukkan kemungkinan reversal tren semakin meningkat.
Aturan exit:
1. Tunggu hingga MACD death cross muncul, menunjukkan pergerakan sudah berakhir.
2. Atau keluar ketika harga naik dan breakout ke atas upper band Donchian.
Dalam contoh di bawah, kamu bisa melihat, ketika pasar baru-baru ini breakdown di bawah lower band, kami membeli saat MACD golden cross muncul; kemudian harga terus naik, dan ketika upper band di-breakout, kami langsung menjual untuk menutup posisi.
Donchian Channel dan Doji
Dalam strategi trading ini, kami akan menggunakan pola kandil Doji. Doji biasanya mewakili kondisi pasar yang ragu-ragu dan tidak pasti, sehingga dapat membantu kami menandai lagi peluang entry ketika pasar bergerak berlebihan ke bawah, dan kemungkinan besar akan segera terjadi mean reversion.
Definisi Doji sangat sederhana, yaitu kandil dengan harga open dan close yang kurang lebih sama.
Dalam strategi ini, kondisi beli adalah, pasar breakdown ke bawah harga terendah yang dibentuk oleh Doji, atau setelah breakdown segera muncul satu kandil Doji. Sama seperti strategi sebelumnya, kami langsung exit ketika harga menyentuh upper band Donchian.
Dalam contoh di bawah, kamu bisa melihat, setelah harga breakdown di bawah lower band, segera terbentuk satu kandil Doji.
Donchian Channel dan ADX
Setelah baru saja memperkenalkan strategi mean reversion, selanjutnya kami akan menunjukkan strategi breakout trend following, yang juga merupakan cara penggunaan Donchian Channel sesuai dengan tujuan awal penciptanya.
Aturan inti strategi ini adalah, harga harus breakout ke atas titik tertinggi upper band untuk bisa long; harga harus breakdown ke bawah titik terendah lower band untuk bisa short.
Namun, seperti yang telah kita bahas sebelumnya, entry breakout semacam ini sangat rentan terhadap false breakout. Untuk mengurangi risiko ini, kita perlu menambahkan kondisi filter.
Salah satu metode filter yang sangat kami sukai adalah menggunakan indikator ADX untuk menilai apakah pasar memiliki momentum yang cukup, sehingga breakout lebih mungkin berlanjut.
Aturan spesifiknya adalah, hanya ketika ADX di atas 30, baru diizinkan untuk long. Secara teoritis, ini berarti pasar memiliki kekuatan tren yang cukup kuat saat mendekati dan breakout upper band, sehingga lebih mungkin terus bergerak searah breakout.
Aturan strategi ini dirangkum sebagai berikut:
✍ Harga breakout ke atas upper band Donchian
✍ Nilai ADX di atas 30
Gunakan trailing stop seperti yang dijelaskan sebelumnya, untuk trading searah tren selama mungkin.
Donchian Channel vs Keltner Channel
Keltner Channel adalah indikator price channel lain yang cukup umum.
Keltner Channel juga terdiri dari tiga garis, dengan cara perhitungan sebagai berikut:
✍ Middle band: Exponential Moving Average (EMA)
✍ Upper dan lower band: di atas dan di bawah EMA, masing-masing berjarak 2 × Average True Range (ATR)
Dapat dilihat, ada perbedaan jelas dengan Donchian Channel: Donchian Channel sepenuhnya berdasarkan harga tertinggi dan terendah dalam periode untuk menggambar upper dan lower band, tanpa melibatkan moving average atau perhitungan volatilitas.
Meskipun demikian, kedua indikator ini dapat menjalankan fungsi serupa dalam strategi trading, tetapi hasil trading aktualnya bisa sangat berbeda.
Donchian Channel vs Bollinger Bands
Bollinger Bands adalah indikator price channel lain yang lebih populer dari Keltner Channel. Faktanya, secara struktur sangat mirip dengan Keltner Channel, tetapi ada satu perbedaan kunci.
Mirip dengan Keltner Channel, middle band Bollinger Bands juga merupakan Exponential Moving Average.
Perbedaannya adalah, upper dan lower band tidak berdasarkan ATR, melainkan ditetapkan pada jarak 2 kali standar deviasi harga close dari moving average. Ini membuat Bollinger Bands mencerminkan tingkat dispersi harga relatif terhadap rata-rata, bukan rentang harga aktual.
Dibandingkan dengan Donchian Channel, dapat dipahami seperti ini, Bollinger Bands lebih jarang tersentuh. Selain itu, dalam hal cara penggunaan, keduanya cukup mirip.
Kesimpulan
Indikator Donchian Channel yang diciptakan oleh Richard Donchian, adalah salah satu alat klasik yang harus diketahui setiap trader. Meskipun strukturnya sangat sederhana, namun baik dalam trend following maupun mean reversion trading, dapat memberikan bantuan yang sangat besar.
Ingatlah, tidak perlu terpaku pada pengaturan parameter default. Kami sendiri jarang melakukannya dalam trading, melainkan menggunakan backtest untuk menemukan kombinasi parameter yang berkinerja optimal secara historis.
Terakhir, backtest sangat penting dalam memvalidasi strategi trading Donchian Channel, karena dengan mensimulasikan data historis, mengevaluasi kinerja strategi di masa lalu, membantu trader sebelum trading real, lebih memahami potensi risiko dan struktur reward dari strategi tersebut.